Showing posts with label Pemanfaatan Batubara. Show all posts
Showing posts with label Pemanfaatan Batubara. Show all posts

Monday, 5 November 2012

PREPARASI SAMPLE


PREPARASI SAMPEL  BATUBARA

Pendahuluan
Pengambilan sampel atau yang disebut sampling adalah suatu proses pengambilan sampel dengan massa yang kecil dari massa yang besar dan cukup representatif serta merata. Tujuan dari sampling adalah untuk mendapatkan sejumlah sampel batubara yang mewakili suatu satuan tertentu, dengan jumlah massa dan ukuran yang sesuai, yang diperlukan untuk mengetahui kualitas batubara tersebut berdasarkan sifat kimia dan fisika yang dimilikinya.
Metode sampling yang telah dijadikan standar, antara lain adalah sebagai berikut:
·         ASTM D 2234 “Standart Test Methods for Collection of a Gross Sample of Coal”
·         British Standart, BS 1017 Part 1 “Sampling of Coal”
·         International Standart, ISO-1988 “ Hard Coal Sampling”
·         Australian Standart, AS 2646 “Sampling of Solid Mineral Fuels”
·         Japanese International StandarT JISM 8100
·         Dan lain-lain
Istilah-Istilah yang digunakan dalam sampling
Istilah-istilah yang banyak digunakan dalam metode sampling antara lain:
·         Bulk Sample
Sample yang diambil secara keseluruhan dari lapisan yang ada tanpa membagi-bagi dalam sub-bagian
·         Play Sample
Sample yang diambil dari lapisan batu-bara berdasarkan perbedaan litotipe, adanya lapisan pengotor atau ketebalan secara sistematis dari top sampai bottom.
·         Composite Sample
Sample yang diambil dari masing-masing ply sample secara representative untuk selanjutnya dicampur menjadi satu sebelum dilakukan analisi dilaboratorium.

·         Run Of Mine (ROM) Coal
Batu-bara yang dihasilkan dari suatu oprasi penambangan sebelum mengalami proses lebih lanjut.
·         Raw (uncleaned) Coal
Batu-bara yang belum mengalami pencucian walaupun mungkin telah mengalami pengayakan.
·         Cleaned Coal
Batu-bara yang telah mengalami proses pencucian baik dengan cara basah meupun dengan cara kering.
·         Large Coal/Lump Coal
Batu-bara yang berukuran lebih besar dari ukuran yang disetujui tanpa batas top size.
·         Graded Coal/Size Coal
Batu-bara yang mempunyai ukuran tertentu setelah mengalami proses pengayakan.
·         Small Coal
Batu-bara dengan ukuran <50 mm dan tidak ada batas under size.
·         Fine Coal
Batu-bara halus yang umumnya mempunyai ukuran partikel < 1,5 mm dengan sangat  jarang yang berukuran diatas 3 mm
·         Consignment
Sejumlah komoditi btu-bara yang dikirim pada suatu waktu tertentu. Consignment dapat terdiri dari satu atau lebih batch atau satuan.
·         Batch
Sejumlah komoditi batu-bara yang dihasilkan pada satu waktu tertentu dalam keadaan yang relative seragam.
·         Incerement
Sejumlah contoh batu-bara yang terambil oleh satu kali gerakan alat sampling atau pengaambil sample.
·         Gross Sample
Sample yang terbentuk dari suatu gabungan semua increment yang diperoleh dari sebuah consignment.

·         Replicate Sample
Pengambilan increment dari consignment pada selang waktu, berat dan ruang yang sama. Kemudian increment tersebut ditempatkan kedalam container atau tempat yang berbeda.
·         Duplicate Sample
Pengambilan sample replikat dengan hanya 2 buah sample untuk memperkirakan presisi rata-rata dari sampling sejumlah consignment.
·         Bias
Kesalahan sistematis yang mengakibatkan hasil yang lebih tinggi atau lebih rendah dari hasil yang sebenarnya.
·         Presisi
Suatu ukuran untuk menilai apakah hasil dari suatu rangkaian pengamatan sesuai  satu dengan yang lain.
·         Sistematis Sampling
Sampling yang dilakukan secara sistematis berdasarkan waktu atau posisi dari unit yang bersangkutan.
·         Random Sampling
Sampling yang dilakukan pada waktu dan posisi unit secara sembarang (acak).
Peralatan yang Digunakan
1. Alat Manual
·      Laddle
Alat sampling dengan bukaan minimal 2,5 kali ukuran batubara top size. Alat ini tidak cocok untuk batubara dengan ukuran >80 mm.
·      Sekop
Alat sampling yang digunakan untuk batubara yang diam (di tumpukan). Bukaan sekop minimal 2,5 kali ukuran batubara top size. Tidak cocok untuk batubara yang sedang bergerak dan ukuran top size >80 mm.
·      Sampling Frame
Alat sampling untuk batubara diatas conveyor. Jarak antara sisi frame paling tidak 2,5 kali ukuran batubara top size.tinggi frame lebih besar dari ketebalan batubara diatas ban.
2. Alat Mekanis
·      Breeches Chute
Alat sampling untuk batubara curahan.
·      Slotted Arm
Alat sampling pada curahan. Alat ini biasanya tidak digunakan untuk batubara yang berukuran >20 mm. Lebar slot tidak kurang dari 2,5 kali ukuran batubara top size.
·      Swinging Arm
Alat ini untuk sampling pada curahan di ujung conveyor dan sesuai untuk posisi dimana tinggi ruangan terbatas.
·      Ram Operated Cart
Alat sampling untuk batubara yang sedang dicurahkan.
·      Scrapper Arm
Alat sampling di conveyor yang sedang bergerak terutama untuk batubara yang berukuran sampai 50 mm.
Dasar- Dasar Sampling
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam sampling batubara lepas (baik sebelum maupun sesudah mengalami proses lebih lanjut), yaitu:
·         Lokasi sampling (stockpile, conveyor, gerbong KA, kapal laut)
·         Jumlah increment yang harus diambil
·         Berat setiap increment yang harus diambil
·         Replikasi sampling
Tabel 1. Lokasi Sampling dan Jumlah Increment yang harus diambil untuk Analisis Abu dan lainnya
Keadaan
Batubara
Jumlah Increment dari
Conveyor
Gerbong KA
Kapal Laut
Stockpile
Cleaned Coal
Uncleaned Coal
16
32
24
48
32
64
32
64

Tabel 2. Jumlah Increment untuk Analisis Kadar Lengas di seluruh Lokasi Sampling
Keadaan Batubara
Jumlah Increment
Washed graded coal
Washed smalls
16
32

Tabel-tabel tersebut berlaku jika tonnage batubara ≤ 1000 ton.
Untuk tonnage batubara > 1000 ton, maka jumlah increment harus dikalikan factor di bawah ini :
f =
dimana f adalah factor yang harus dikalikan dengan jumlah increment yang ditunjukkan pada tabel 1 dan tabel 2. Sedangkan berat contohnya dihitung dengan rumus :
P = 0,06 D
Dimana,
            P  = berat contoh (kg)
            D = diameter partikel top size (mm)
Dengan catatan,
·         Bila top size ≤ 150 mm, berat contoh tidak boleh kurang dari 0,5 kg.
·         Bila top size > 150 mm, berat contoh tidak boleh kurang dari 10 kg.

Replikasi Sampling
Replikasi sampling dilakukan dengan cara pengulangan sampling dari increment.
Tujuan = memeriksa ketelitian sampling yang telah dilakukan.
Dari satu unit batubara yang akan disampling, dibuat 6 replikat dari jumlah increment yang diambil sesuai dengan tabel 1 dan 2. Jika jumlah increment tidak genap dibagi 6, maka jumlah increment ditambah hingga genap. Kemudian setiap bagian pembagian sampel dianalisis secara terpisah.
Perbedaan yang diperkenankan antara contoh replikasi dengan contoh lainnya ditunjukkan oleh tabel di bawah ini (Tabel 3).
Hasil analisis
Jenis Batubara
Ketelitian Standar
Abu/Lengas
< 20%
> 20%
1,5% dari kadar abu/lengas yang sebenarnya
2% absolut
Contoh :
Jika kadar abu/lengas 15%, maka relevansi antara 13,5% sampai 16,5%
Jika kadar abu/lengas 25%, maka relevansi antara 23% sampai 27%

Sampling dari Conveyor
Sebaiknya, increment dilakukan dalam satu gerakan alat sampling dengan lebar alat minimal 2,5 kali ukuran top size batubara. Sampling dilakukan pada saat terdapat pemuatan secara normal ke atas conveyor pada titik sampling, bukan sampling awal dan akhir curahan.
Bila batubara memiliki ukuran top size > 80 mm atau pada suatu titik curahan dan aliran yang bergerak, sampling dilakukan dengan alat mekanis. Bila terpaksa dilakukan dengan cara manual, conveyor harus dihentikan terlebih dahulu.
Metode-metode sampling :
1. Sampling dari ban yang dihentikan
             Increment dikumpulkan di seluruh penampang melintang aliran batubara dengan menggunakan alat bantu berupa frame. Frame diletakkan di atas conveyor melintang terhadap lebarnya. Semua batubara yang terambil oleh frame tersebut dimasukkan ke dalam wadah sample dimana setiap bongkahan batubara yang menghalangi pemasangan frame harus didorong.

2. Sampling dari titik curahan
Merupakan metoda yang paling dapat dipercaya dalam mengumpulkan increment apabila batubara sedang bergerak. Pada samping menggunakan alat mekanis, mesin sampling harus melewati curahan batubara yang jatuh pada kecepatan konstan dan harus diatur dengan hati-hati untuk menjamin bahwa seluruh ketebalan dan lebar curahan dapat terambil semua.
        Sampling dengan alat manual dapat dilakukan menggunakan sekop atau laddle yang digerakkan melintang lebar curahan dengan kecepatan tetap. Apabila curahan terlalu lebar sehingga alat sampling tidak dapat mengambil contoh memotong seluruh lebar dalam satu gerakkan maka curahan harus diambil contohnya secara sistematis dengan mengambil increment dari bagian curahan secara bergantian. 


3. Sampling dari conveyor yang sedang bergerak
Cara ini dilakukan bila sampling pada titik curahan sulit diperoleh secara memuaskan. Perhatian ditekankan untuk menjamin seluruh ketebalan aliran terambil. Pada proses sampling, sekop akan bergerak sepanjang aliran dan menyapu dasar untuk menghindari tidak terambilnya batubara yang berukuran kecil. Sampling sebaiknya dilakukan menggunakan alat mekanis karena sampling dengan alat manual hanya dapat dilakukan apabila kecepatan conveyor tidak lebih dari 1,5 m/s, dengan tinggi aliran batubara < 0,3 mm dan curahan batubara < 200 ton/jam . 

4. Sampling dari curahan yang bergerak terputus-putus
   Contoh dari sampling jenis ini adalah curahan dari discharging conveyor, bucket elevator, atau bucket conveyor. Sample dilakukan bila berat dari bucket tidak kurang dari berat increment yang dikehendaki.
             Increment dikumpulkan dari curahan batubara pada titik pencurahan atau pada titik mana saja dengan menghentikan curahan. Seluruh isi bucket harus diambil sebagai satu increment atau dibagi menjadi beberapa bagian untuk bucket yang berukuran besar.

PROSES PEMBATUBARAAN


Batubara
Batubara adalah batuan yang mudah terbakar yang lebih dari 50% -70% berat volumenya merupakan bahan organik yang merupakan material karbonan termasuk inherent moisture. Bahan organik utamanya yaitu tumbuhan yang dapat berupa jejak kulit pohon, daun, akar, struktur kayu, spora, polen, damar, dan lain-lain. Selanjutnya bahan organik tersebut mengalami berbagai tingkat pembusukan (dekomposisi) sehingga menyebabkan perubahan sifat-sifat fisik maupun kimia baik sebelum ataupun sesudah tertutup oleh endapan lainnya.

Batubara merupakan sedimen organik, lebih tepatnya merupakan batuan organik, terdiri dari kandungan bermacam-macam pseudomineral. Batubara terbentuk dari sisa tumbuhan yang membusuk dan terkumpul dalam suatu daerah dengan kondisi banyak air, biasa disebut rawa-rawa. Kondisi tersebut yang menghambat penguraian menyeluruh dari sisa-sisa tumbuhan yang kemudian mengalami proses perubahan menjadi batubara.
Selain tumbuhan yang ditemukan bermacam-macam, tingkat kematangan juga bervariasi, karena dipengaruhi oleh kondisi-kondisi lokal. Kondisi lokal ini biasanya kandungan oksigen, tingkat keasaman, dan kehadiran mikroba. Pada umumnya sisa-sisa tanaman tersebut dapat berupa pepohonan, ganggang, lumut, bunga, serta tumbuhan yang biasa hidup di rawa-rawa. Ditemukannya jenis flora yang terdapat pada sebuah lapisan batubara tergantung pada kondisi iklim setempat. Dalam suatu cebakan yang sama, sifat-sifat analitik yang ditemukan dapat berbeda, selain karena tumbuhan asalnya yang mungkin berbeda, juga karena banyaknya reaksi kimia yang mempengaruhi kematangan suatu batubara.

Secara umum, setelah sisa tanaman tersebut terkumpul dalam suatu kondisi tertentu yang mendukung (banyak air), pembentukan dari peat (gambut) umumnya terjadi. Dalam hal ini peat tidak dimasukkan sebagai golongan batubara, namun terbentuknya peat merupakan tahap awal dari terbentuknya batubara. Proses pembentukan batubara sendiri secara singkat dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan dari sisa-sisa tumbuhan yang ada, mulai dari pembentukan peat (peatifikasi) kemudian lignit dan menjadi berbagai macam tingkat batubara, disebut juga sebagai proses coalifikasi, yang kemudian berubah menjadi antrasit. Pembentukan batubara ini sangat menentukan kualitas batubara, dimana proses yang berlangsung selain melibatkan metamorfosis dari sisa tumbuhan, juga tergantung pada keadaan pada waktu geologi tersebut dan kondisi lokal seperti iklim dan tekanan. Jadi pembentukan batubara berlangsung dengan penimbunan akumulasi dari sisa tumbuhan yang mengakibatkan perubahan seperti pengayaan unsur karbon, alterasi, pengurangan kandungan air, dalam tahap awal pengaruh dari mikroorganisme juga memegang peranan yang sangat penting.

Sejarah Batubara
Beberapa ahli sejarah yakin bahwa batubara pertama kali digunakan secara komersial di Cina. Ada laporan yang menyatakan bahwa suatu tambang di timur laut Cina menyediakan batu bara untuk mencairkan  tembaga dan untuk mencetak uang logam sekitar tahun 1000 SM. Bahkan  petunjuk paling awal tentang batubara ternyata berasal dari filsuf dan  ilmuwan Yunani yaitu Aristoteles, yang menyebutkan adanya arang seperti  batu. Abu batu bara yang ditemukan di reruntuhan bangunan bangsa Romawi  di Inggris juga menunjukkan bahwa batubara telah digunakan oleh bangsa Romawi pada tahun 400 SM. 
Catatan sejarah dari Abad Pertengahan memberikan bukti pertama penambangan batu bara di Eropa, bahkan suatu perdagangan  internasional batu bara laut dari lapisan batu bara yang tersingkap  di pantai Inggris dikumpulkan dan diekspor ke Belgia. Selama Revolusi  Industri pada abad 18 dan 19, kebutuhan akan batubara amat mendesak. Penemuan revolusional mesin uap oleh James Watt, yang dipatenkan pada  tahun 1769, sangat berperan dalam pertumbuhan penggunaan batu bara.  Oleh karena itu, riwayat penambangan dan penggunaan batu bara tidak dapat dilepaskan dari sejarah Revolusi Industri, terutama terkait dengan  produksi besi dan baja, transportasi kereta api dan kapal uap. 
Namun tingkat penggunaan batubara sebagai sumber energi primer mulai berkurang seiring dengan semakin meningkatnya pemakaian minyak. Dan akhirnya, sejak tahun  1960 minyak menempati posisi paling atas sebagai sumber energi primer menggantikan batubara. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa batubara akhirnya tidak berperan sama sekali sebagai salah satu sumber energi primer. 
Krisis minyak pada tahun 1973 menyadarkan banyak pihak bahwa ketergantungan yang berlebihan pada salah satu sumber energi primer, dalam hal ini minyak, akan menyulitkan upaya pemenuhan pasokan energi yang kontinyu. Selain itu, labilnya kondisi keamanan di Timur Tengah  yang merupakan produsen minyak terbesar juga sangat berpengaruh pada fluktuasi harga maupun stabilitas pasokan. Keadaan inilah yang kemudian mengembalikan pamor batubara sebagai alternatif sumber energi primer, disamping faktor faktor berikut ini: 
  1. Cadangan batubara sangat banyak dan tersebar luas.
Diperkirakan terdapat lebih dari 984 milyar ton cadangan batubara terbukti (proven coal reserves) di seluruh dunia yang tersebar di lebih dari 70 negara. Dengan asumsi tingkat produksi pada tahun 2004 yaitu sekitar 4.63 milyar ton per tahun untuk produksi batubara keras (hard coal) dan 879 juta ton per tahun untuk batubara muda (brown coal), maka cadangan batubara diperkirakan dapat bertahan hingga 164 tahun. Sebaliknya, dengan tingkat produksi pada saat ini, minyak diperkirakan akan habis dalam waktu 41 tahun, sedangkan gas adalah 67 tahun. Disamping itu, sebaran cadangannya pun terbatas, dimana 68% cadangan minyak dan 67% cadangan gas dunia terkonsentrasi di Timur Tengah dan Rusia.
2.      Negara-negara maju dan negara-negara berkembang terkemuka memiliki banyak cadangan batubara.
Berdasarkan data dari BP Statistical Review of Energy 2004, pada tahun 2003, 8 besar negara negara dengan cadangan batubara terbanyak adalah Amerika Serikat, Rusia, China, India, Australia, Jerman, Afrika Selatan, dan
Ukraina.
  1. Batubara dapat diperoleh dari banyak sumber di pasar dunia dengan pasokan yang stabil.
  2. Harga batubara yang murah dibandingkan dengan minyak dan gas.
  3. Batubara aman untuk ditransportasikan dan disimpan.
  4. Batubara dapat ditumpuk di sekitar tambang, pembangkit listrik, atau lokasi sementara.
  5. Teknologi pembangkit listrik tenaga uap batubara sudah teruji dan handal.
  6. Kualitas batubara tidak banyak terpengaruh oleh cuaca maupun hujan.
  7. Pengaruh pemanfaatan batubara terhadap perubahan lingkungan sudah dipahami dan dipelajari secara luas, sehingga teknologi batubara bersih (clean coal technology) dapat dikembangkan dan diaplikasikan.



Sejarah dan Pembentukan Batu Bara di Indonesia

Pada tahun 400 SM filsuf dan ilmuwan Yunani yaitu Aristoteles telah menemukan abu batu bara di reruntuhan bangunan bangsa Romawi di Inggris. Akan tetapi, batu bara sebagai salah satu sumber energi primer pertama kali digunakan secara komersial di Cina pada tahun 1000 SM. Pada saat itu, suatu tambang di timur laut Cina menyediakan batu bara untuk mencairkan tembaga dan untuk mencetak uang logam. Raharjo, 2006a).

Di Indonesia sendiri, pertambangan batu bara dimulai pada tahun 1849 di Pengaran, Kalimantan Timur. Kegiatan pertambangan secara besar-besaran di Pulau Sumatera dimulai pada tahun 1880 di lapangan Sungai Durian – Sumatera Barat. Walaupun usaha ini mengalami kegagalan, penyelidikan tetap dilakukan, yaitu sekitar tahun 1868 – 1873 dan kemudian dibukalah tambang batu bara Ombilin pada tahun 1862. sedangkan di Sumatrea Selatan, penyelidikan batu bara dilakukan pada tahun 1915 – 1918 yang kemudian menghasilkan pembukaan tambang batu bara Bukit Asam pada tahun 1919 (Sukandarrumidi, 1995).

Tahap pembentukan batu bara

Proses pembentukan batubara terdiri dari dua tahap yaitu tahap biokimia (penggambutan) dan tahap geokimia (pembatubaraan).
1. Tahap penggambutan (peatification) adalah tahap dimana sisa-sisa tumbuhan yang terakumulasi tersimpan dalam kondisi reduksi di daerah rawa dengan sistem pengeringan yang buruk dan selalu tergenang air pada kedalaman 0,5 – 10 meter. Material tumbuhan yang busuk ini melepaskan H, N, O, dan C dalam bentuk senyawa CO2, H2O, dan NH3 untuk menjadi humus. Selanjutnya oleh bakteri anaerobik dan fungi diubah menjadi gambut (Stach, 1982, op cit Susilawati 1992).
2. Tahap pembatubaraan (coalification) merupakan gabungan proses biologi, kimia, dan fisika yang terjadi karena pengaruh pembebanan dari sedimen yang menutupinya, temperatur, tekanan, dan waktu terhadap komponen organik dari gambut (Stach, 1982, op cit Susilawati 1992). Pada tahap ini prosentase karbon akan meningkat, sedangkan prosentase hidrogen dan oksigen akan berkurang (Fischer, 1927, op cit Susilawati 1992). Proses ini akan menghasilkan batubara dalam berbagai tingkat kematangan material organiknya mulai dari lignit, sub bituminus, bituminus, semi antrasit, antrasit, hingga meta antrasit.

Komposisi batubara hampir sama dengan komposisi kimia jaringan tumbuhan, keduanya mengandung unsur utama yang terdiri dari unsur C, H, O, N, S, P. Hal ini dapat dipahami, karena batubara terbentuk dari jaringan tumbuhan yang telah mengalami coalification. Pada dasarnya pembentukkan batubara sama dengan cara manusia membuat arang dari kayu, perbedaannya, arang kayu dapat dibuat sebagai hasil rekayasa dan inovasi manusia, selama jangka waktu yang pendek, sedang batubara terbentuk oleh proses alam, selama jangka waktu ratusan hingga ribuan tahun. Karena batubara terbentuk oleh proses alam, maka banyak parameter yang berpengaruh pada pembentukan batubara. Makin tinggi intensitas parameter yang berpengaruh makin tinggi mutu batubara yang terbentuk.
Teori Pembentukan Batubara
Ada dua teori yang menjelaskan terbentuknya batubara, yaitu teori insitu dan teori drift. Teori insitu menjelaskan, tempat dimana batubara terbentuk sama dengan tempat terjadinya coalification dan sama pula dengan tempat dmana tumbuhan tersebut berkembang.
Teori drift menjelaskan, bahwa endapan batubara yang terdapat pada cekungan sedimen berasal dari tempat lain. Bahan pembentuk batubara mengalami proses transportasi, sortasi dan terakumulasi pada suatu cekungan sedimen. Perbedaan kualitas batubara dapat diketahui melalui stratigrafi lapisan. Hal ini mudah dimengerti karena selama terjadi proses transportasi yang berkaitan dengan kekuatan air, air yang besar akan menghanyutkan pohon yang besar, sedangkan saat arus air mengecil akan menghanyutkan bagian pohon yang lebih kecil (ranting dan daun). Penyebaran batubara dengan teori drift memungkinkan, tergantung dari luasnya cekungan sendimentasi.
Pada proses pembentukan batubara atau coalification terjadi proses kimia dan fisika, yang kemudian akan mengubah bahan dasar dari batubara yaitu selulosa menjadi lignit, subbitumina, bitumina atau antrasit. Reaksi pembentukkannya dapat diperlihatkan sebagai berikut:
5(C6H10O5) →   C20H22O4 + 3CH4 + 8H2O + 6CO2 + CO
    Selulosa             lignit     gas metan
Dalam proses pembentukkan selulosa sebagai senyawa organik yang merupakan senyawa pembentuk batubara, semakin banyak unsur C pada batubara, maka semakin baik kualitasnya, sebaliknya semakin banyak unsur H, maka semakin rendah kualitasnya, dan senyawa kimia yang terbentuk adalah gas metan, semakin besar kandungan gas metan, maka semakin baik kualitasnya.
Penyusun Batubara
Konsep bahwa batubara berasal dari sisa tumbuhan diperkuat dengan ditemukannya cetakan tumbuhan di dalam lapisan batubara. Dalam penyusunannya batubara diperkaya dengan berbagai macam polimer organik yang berasal dari antara lain karbohidrat, lignin, dll. Namun komposisi dari polimer-polimer ini bervariasi tergantung pada spesies dari tumbuhan penyusunnya.
Lignin

Lignin merupakan suatu unsur yang memegang peranan penting dalam merubah susunan sisa tumbuhan menjadi batubara. Sementara ini susunan molekul umum dari lignin belum diketahui dengan pasti, namun susunannya dapat diketahui dari lignin yang terdapat pada berbagai macam jenis tanaman. Sebagai contoh lignin yang terdapat pada rumput mempunyai susunan p-koumaril alkohol yang kompleks. Pada umumnya lignin merupakan polimer dari satu atau beberapa jenis alkohol.
Hingga saat ini, sangat sedikit bukti kuat yang mendukung teori bahwa lignin merupakan unsur organik utama yang menyusun batubara.
Karbohidrat

Gula atau monosakarida merupakan alkohol polihirik yang mengandung antara lima sampai delapan atom karbon. Pada umumnya gula muncul sebagai kombinasi antara gugus karbonil dengan hidroksil yang membentuk siklus hemiketal. Bentuk lainnya mucul sebagai disakarida, trisakarida, ataupun polisakarida. Jenis polisakarida inilah yang umumnya menyusun batubara, karena dalam tumbuhan jenis inilah yang paling banyak mengandung polisakarida (khususnya selulosa) yang kemudian terurai dan membentuk batubara.
Protein

Protein merupakan bahan organik yang mengandung nitrogen yang selalu hadir sebagai protoplasma dalam sel mahluk hidup. Struktur dari protein pada umumnya adalah rantai asam amino yang dihubungkan oleh rantai amida. Protein pada tumbuhan umunya muncul sebagai steroid, lilin.
Material Organik Lain
Resin
Resin merupakan material yang muncul apabila tumbuhan mengalami luka pada batangnya.

Tanin

Tanin umumnya banyak ditemukan pada tumbuhan, khususnya pada bagian batangnya.

Alkaloida

Alkaloida merupakan komponen organik penting terakhir yang menyusun batubara. Alkaloida sendiri terdiri dari molekul nitrogen dasar yang muncul dalam bentuk rantai.

Porphirin

Porphirin merupakan komponen nitrogen yang berdasar atas sistem pyrrole. Porphirin biasanya terdiri atas suatu struktur siklik yang terdiri atas empat cincin pyrolle yang tergabung dengan jembatan methin. Kandungan unsur porphirin dalam batubara ini telah diajukan sebagai marker yang sangat penting untuk mendeterminasi perkembangan dari proses coalifikasi.
Hidrokarbon

Unsur ini terdiri atas bisiklik alkali, hidrokarbon terpentin, dan pigmen kartenoid. Sebagai tambahan, munculnya turunan picene yang mirip dengan sistem aromatik polinuklir dalam ekstrak batubara dijadikan tanda inklusi material sterane-type dalam pembentukan batubara. Ini menandakan bahwa struktur rangka tetap utuh selama proses pematangan, dan tidak adanya perubahan serta penambahan struktur rangka yang baru.
Konstituen Tumbuhan yang Inorganik (Mineral)
Selain material organik yang telah dibahas diatas, juga ditemukan adanya material inorganik yang menyusun batubara. Secara umum mineral ini dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu unsur mineral inheren dan unsur mineral eksternal. Unsur mineral inheren adalah material inorganik yang berasal dari tumbuhan yang menyusun bahan organik yang terdapat dalam lapisan batubara. Sedangkan unsur mineral eksternal merupakan unsur yang dibawa dari luar kedalam lapisan batubara, pada umumya jenis inilah yang menyusun bagian inorganik dalam sebuah lapisan batubara.

Referensi :
http://alfatakh.blogspot.com/
http://anafio.multiply.com/reviews/item/2