Monday, 25 June 2012

Pengolahan Suhu Rendah


BAB III
PENGOLAHAN DENGAN SUHU RENDAH

3.1 Pendahuluan
Pengolahan dengan suhu rendah bertujuan untuk memperlambat atau menghentikan metabolisme. Hal ini dilakukan berdasarkan fakta bahwa respirasi pada buah dan sayuran tetap berlangsung setelah panen, sampai buah dan sayuran itu membusuk; dan pertumbuhan bakteri di bawah suhu 100C akan semakin lambat dengan semakin rendahnya suhu. Proses metabolisme sendiri terganggu apabila terjadi perubahan suhu. Sehingga penyimpanan suhu rendah dapat memperpanjang masa hidup jaringan-jaringan dalam bahan pangan karena penurunan aktivitas respirasi dan aktivitas mikroorganisme. Lambatnya pertumbuhan mikroba pada suhu yang lebih rendah ini menjadi dasar dari proses pendinginan dan pembekuan dalam pengawetan pangan. Proses pendinginan dan pembekuan tidak mampu membunuh semua mikroba, sehingga pada saat dicairkan kembali (thawing), sel mikroba yang tahan terhadap suhu rendah akan mulai aktif kembali dan dapat menimbulkan masalah kebusukan pada bahan pangan yang bersangkutan.
Metode ini sering digunakan sebagai alternative pengawetan karena bahan pangan tidak akan kehilangan nutrisi yang terkandung di dalamnya, selain itu rasa dan tekstur dari bahan pangan yang diawetkan dengan cara ini. Selain itu sifat fisik dan sifat kimia dari bahan pangan tidak akan berubah seperti pengawetan yang dilakukan melalui proses kimia atau fermentasi.
Penggunaan suhu rendah dalam pengawetan makanan tidak dapat menyebabkan kematian mikroba sehingga bila bahan pangan dikeluarkan dari tempat penyimpanan dan dibiarkan mencair kembali (thawing) pertumbuhan mikroba pembusuk dapat berjalan dengan cepat.

3.2 Cara-Cara Pengawetan Suhu Rendah
Pengawetan bahan pangan pada suhu rendah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pendinginan (cooling) dan pembekuan (freezing). Pendinginan adalah penyimpanan bahan pangan di atas suhu pembekuan yaitu -2 sampai 10oC. Meskipun air murni membeku pada suhu 0oC, tetapi beberapa  bahan pangan ada yang tidak membeku sampai suhu dibawah -2oC atau dibawah, hal ini terutama disebabkan oleh pengaruh kandungan zat-zat di dalam bahan pangan tersebut. Pendinginan biasanya akan mengawetkan beberapa hari atau minggu tergantung dari ,acam bahan pangannya.
FF1425SSIM
Contoh pengawetan dengan suhu rendah
Pembekuan adalah penyimpanan bahan pangan dalam keadaan beku. Pembekuan dapat mengawetkan bahan pangan untuk beberapa bulan atau kadang-kadang beberapa tahun. Pembekuan yang baik biasanya dilakukan pada suhu -12oC sampai -24oC, dan pembekuan cepat dilakukan pada suhu -24oC sampai -40oC. Pembekuan cepat ini dapat terjadi dalam waktu kurang dari 30 menit. Sedangkan pembekuan lambat biasanya berlangsung selama 30-27 jam.
Pembekuan cepat mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan cara lambat karena Kristal es yang terbentuk sehingga kerusakan mekanis yang terjadi lebih sedikit, penceghan pertembuhan mikroba juga berlangsung cepat dan kegiatan enzim juga cepat berhenti. Bahan makanan yang dibekukan secara cepat mempunyai mutu lebih baik dari pada bahan pangan yang dibekukan secara lambat.

3.3 Metode Pembekuan
Teknik-teknik pembekuan termasuk:
a.      Pembekuan dalam udara dingin
Ada dua system yang dapat dipakai dalam pembekuan dengan metode ini yaitu udara diam dan dengan hembusan udara. Pembekuan dengan udara diam dilakukan dengan menempatkan bahan pangan yang dikemas atau yang lepas di dalam ruangan pembekuan yang sesuai. Sementara itu, pembekuan dengan hembuasn udara dilakukan dengan menghembuskan udara dingin denga kecepatan sangat tinggi dengan bantuan kipas yang dipasang di dalam ruangan pembekuan.
fluidized-bed-cooler-375288
Gambar fluidised bed
b.      Pembekuan dengan kontak tidak langsung dengan zat pembeku
Suatu logam dicelupkan dalam larutan garam yang didinginkan , kewmudian bahan pangan dikontakkan dengan logam yang didinginkan dengan zat pendingin (larutan garam). Bahan panga juga dapat dikemas dalam kotak karton dan ditempatkan pada sebuah plet logam yang diginginkan. Plat logam berupa ban berjalan atau staesioner. Dan larutan pendingin dapat diam atau bergerak secara turbulen.
plate 2
Plate Freezer
c.       Pembekuan dengan perendaman langsung
Pencelupan langsung bahan pangan dalam suatu zat pendingin cair merupakan metode yang paling cepat. Produk-produk  makanan dapat dibekukan dengan cepat, karena adanya singgungan langsung antara bahan pangan dengan zat pendingin yang sangant baik. Bahan pangan dapat dibekukan dalam system cairan, dalam system semprotan dan dalam system kabut.
Pemilihan metode pembekuan dapat berdasarkan pada:
Ø  Mutu produk dan tingkat pembekuan yang diinginkan
Ø  Tipe dan bentuk produk, pengmasan dan lain-lain.
Ø  Fleksibelitas yang dibutuhkan dalam operasi pembekuan.
Ø  Biaya pembekuan untuk teknik alternative.

3.4 Kerusakan – Kerusakan Akibat Penyimpanan Suhu Rendah
            Untuk menjaga mutunya, produk – produk hortikultura (buah – buahan dan sayuran) memerlukan suhu penyimpanan tertentu, seperti terlihat pada Tabel 3-1.
Tabel 3-1 Penyimpanan beberapa buah – buahan dan sayur – sayuran pada suhu rendah +)
Bahan
Suhu terbaik (oC)
Kerusakan jika disimpan di bawah suhu penyimpanan terbaik
Buah – buahan :
Advokat
Anggur
Apel
Jeruk
Mangga
Nanas ++)
Pepaya
Pisang

Sayuran – sayuran
Buncis
Kentang
Ketimun
Kol ++)
Terung ++)
Tomat hijau
Tomat matang
Wortel ++)

7,5
7,5
1 – 2
2 – 3
10
10 – 30
7,5
13,5


7,5 – 10
4,5
7,5
0
7 – 10
13
10
0 – 1,5

Coklat bagian dalam
Luka, bopeng, coklat bagian dalam
Coklat bagian dalam, lunak dan pecah
Kulit tidak beraturan
Warna pucat bagian dalam
Lembek
Pecah
Warna gelap jika masak


Bopeng, lembek, kemerah – merahan
Coklat (browning)
Bopeng, lembek, busuk
Garis – garis coklat pada tangkai
Bintik – bintik coklat
Tidak berwarna jika masak, mudah busuk
Pecah
Pecah
+) Potter (1968)            ++) Dardjo Somaatmadja (1972)
apel-busuk
Contoh kerusakan yang terjadi pada buah
            Untuk mencegah kerusakan pada buah advokat yang masih keras atau belum masak sebaiknya disimpan pada suhu 7,5oC. Sedangkan buah yang sudah masak disimpan pada suhu sekitar 0oC. Pencegahan yang terbaik kerusakan pada kulit mangga adalah dengan penyemprotan yang teratur pada buah sewaktu masih di pohinnya dan setelah pemetikan buah disimpan pada suhu 10oC. Pencegahan kerusakan pada buah nanas yang dilakukan terutama pada buah yang baru dipetik, tangkai bekas patahan atau keratin pisau harus dicelupkan ke dalam larutan yang mengandung 2,5 % asam benzoate di dalam alcohol 30 % kemudian didinginkan pada suhu 10 – 13oC. Suhu untuk penyimpanan pisang terutama pisang ambon yaitu pada suhu lebih rendah dari 13,5oC. Ketimun hendaknya jangan disimpan pada suhu di bawah 7,5oC untuk mencegah terjadinya warna yang mengkilat pada kulit dan untuk mencegah dagingnya agar tidak menjadi lembek. Pemetikan dan perlakuan yang hati – hati pada tomat dapat mencegah kerusakan pada waktu penyimpanan. Suhu penyimpanan yang baik untuk tomat yang masih mentah (hijau) adalah 13oC, sedangkan untuk tomat masak (merah) 10oC.

3.5 Pengaruh Pembekuan pada Jaringan
            Makanan tidak mempunyai titik beku yang pasti, tetapi akan membeku pada kisaran suhu tergantung pada kadar air dan komposisi sel. Kurva suhu-waktu pembeku umumnya  menunjukkan garis datar antara 0o dan -5oC berkaitan dengan perubahan air menjadi es, kecuali jika kecepatan pembekuan sangat tinggi. Telah ditunjukkan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk melampaui daerah pembekuan ini mempunyai pengaruh yang nyata pada mutu beberapa makanan beku. Umunya telah diketahui  bahwa pada tahapan ini terjadi kerusakan sel dan struktur  yang  ireversibel yang mengakibatkan mutu menjadi jelek setelah pencairan, terjadi khususbya sebagai hasil pembentukan Kristal es yang besar.

3.6 Pengaruh Pembekuan pada Mikroorganisme
            Pertumbuhan mikroorganisme dalam makanan pada suhu dibawah kira-kira 12oC belum dapat diketahui dengan pasti. Jadi penyimpanan makanan beku pada suhu -18oC dan dibawahnya akan mencegah kerusakan mikrobiologis, dengan pesyaratan tidak terjadi perubahan suhu yang besar.
            Mikroorganisme psikrofilik mempunyai kemampuan untuk tumbuh pada suhu lemari es, terutama diantara 0oC-5oC. Jadi penyimpanan yang lama pada suhu-suhu ini dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan oleh mikroba.
Walaupun jumlah mikroba biasanya menurun selama pembekuan dan penyimpanan beku, tetapi makanan beku terkadang tidak steril dan sering cepat membusuk dibandingkan produk yang tidak dibekukan.
            Makanan tidak mempunyai titik beku yang pasti, tetapi akan membeku pada kisaran suhu tergantung pada kadar air dan komposisi sel. Kurva suhu-waktu pembeku umumnya  menunjukkan garis datar antara 0o dan -5oC berkaitan dengan perubahan air menjadi es, kecuali jika kecepatan pembekuan sangat tinggi. Telah ditunjukkan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk melampaui daerah pembekuan ini mempunyai pengaruh yang nyata pada mutu beberapa makanan beku. Umunya telah diketahui  bahwa pada tahapan ini terjadi kerusakan sel dan struktur  yang  ireversibel yang mengakibatkan mutu menjadi jelek setelah pencairan, terjadi khususbya sebagai hasil pembentukan Kristal es yang besar.

3. 7 Beberapa Perlakuan Pendahuluan Sebelum Pendinginan dan Pembekuan
a. Pendinginan
            Buah-buahan yang akan disimpan pada suhu rendah haruslah yang bermutu baik dan tidak mema. Sebelum didinginkan buah harus dicuci dan ditiriskan, jangan disimpan dalam keadaan basah, karena akan merangsang pertumbuhan kapang dan pembusukan dapat cepat terjadi. Untuk mengurangi suatu kelayuan dan pengeringan, buah dibungkus dalam kantong plastic yang berpori-pori agar tetap terjadi sirkulasi udara.
FF1425SSIM
            Suhu pendinginan yang digunakan tergantung pada jenis buah, biasanya suhu pendinginan cocok untuk buah-buahan seperti “strawberry”, apel, mangga, dan juwet. Sedang pisang, advokat, nanas, dan semangka lebih baik tidak disimpan di dalam lemari es, karena pada suhu di bawah 13,3 oC akan terjadi “chilling inyury”.
            Pengecualian pada sayuran, karena beberapa sayuran paling baik dimakan segera sesudah dipanen. Tanaman terus bernafas terjadi perubahan selama penyimpanan yaitu, gula yang ada digunakan untuk respirasi. Dimana cara memepertahankan mutu sayuran itu sendiri tergantung dari sifat aslinya.
            Umumnya sayuran seperti umbi, bawang, kentang, dan biji-bijian dapat disimpan pada suhu ruang dalam jangka waktu yang relative lama tanpa terjadi penurunan mutu yang serius. Terung, wortel, buncis, ketimun dapat disimpan pada runag sejuk seperti di ruang bawah tanah (basement). Sayuran yang lain sebaiknya disimpan di dalam lemari pendingin.
            Suhu yang tinggi dengan kelembaban yang relatif tinggi penyimpanan menyebabkan pertunasan dan pembusukan. Sebaiknya, penyimpanan pada suhu rendah (4,4 oC) atau lebih rendah menyebabkan terjadinya akumulasi gula sebab aktivitas metabolism berlangsung agak lambat.

b. Pembekuan
            Tujuan perlakuan pendahuluan adalah untuk mempertahankan mutu buah dan sayuran selama pembekuan dan penyimpanan beku, dengan cara mengurangi kerusakan selama pembekuan dan penyimpanan beku. Pembekuan tidak dapat memeperbaiki mutu pangan.
Tube_Ice_Machine
Seleksi Bahan
Buah dan sayuran haruslah dipilih pada dasar kematangan yang paling cocok untuk dibekukan. Buah harus dalam keadaan cukup keras dan matang , sedangkan sayuran harus dalam keadaan segar lapang (gardep fresh), lembut dan dalam keadaan matang yang seragam untuk kebutuhan memasak.
Persiapan Bahan
            Beberapa tahap dilakukan dalam menyiapkan bahan pangan sebelum dibekukan, termasuk pencucian untuk mereduksi jumlah mikroba melepaskan tangkai buah, mengupas kulit dan bagian yang tidak dimakan serta memotong buah dalam bentuk yang diinginkan.
Blansir
            Blansir adalah proses pemanasan dengan suhu tinggi (80 – 100 oC), dengan menggunakan uap atau air panas. Umumnya blansir dilakukan terhadap buah dan sayuran. Tujuan proses blansir adalah sebagai berikut:
a.      Menginaktifkan enzim-enzim yang terdapat dalam buah dan sayuran yang dapat menyebabkan perubahan flavor dan rasa serta warna dalam penyimpanan.
b.      Mengerutkan dan melemaskan bahan pangan, sehingga memudahkan pengolahan selanjutnya.
c.       Menurunkan kontaminasi mikroba awal.
d.      Menghilangkan kotoran-kotoran pada permukaan bahan dan mengusir udara atau mengurangi kadar oksigen dari jaringan bahan pangan.



3. 8 Mencegah Perubahan Warna
            Perubahan warna yang utama pada sayuran dan buah-buahan disebabkan oleh reaksi browning (pencokelatan). Reaksi pencokelatan (browning) enzimatis dan non enzimatis. Browning enzimatis disebabkan oleh aktivitas enzim phenolase dan poliphenolase. Apabila sel pecah akibat terjatuh/memar atau terpotong (pengupasan, pengirisan) substrat dan enzim akan bertemu paad keadaan aerob (terdapat oksigen) sehingga terjadi reaksi browning enzimatis.
            Untuk terjadinya reaksi browning enzimatis diperlukan adanya 4 komponen fenolase dan polifenolase (enzim), senyawa-senyawa fenol dan polifenol (substrat), oksigen dan ion tembaga yang merupakan sisi aktif enzim.
            Browning non enzimatik terutama disebabkan reaksi Maillard, yaitu reaksi yang terjadi antara gula pereduksi (melalui sisi keton dan aldehid yang reaktif) dengan asam amino (melalui gugus amina). Reaksi non enzimatik browning yang lain adalah karamelisasi dan oksidasi asam askrobat. Reaksi browning dapat dicegah dengan menambahkan senyawa-senyawa anti pencokelatan, antara lain senyawa-senyawa sulfit, asam-asam organik dan dengan blanching/ blansir.
a.      Sulfit: senyawa-senyawa sulfit misalnya Natrium Bisulfit, Natrium Sulfit dan lain-lain mempunyai kemampuan untuk menghambat reaksi browning baik enzimatis maupun non enzimatis.
b.      Penambahan asam-asam organik dapat menghambat browning enzimatik terutama disebabkan efek turunnya pH akibat penambahan senyawa tersebut. Asam-asam organic yang data ditambahkan adalah asam askorbat, asam malat, asam sitrat, dan asam erithorbat. Disamping menurunkan pH penambahan asam askorbat yang bersifat pereduksi kuat sehingga berfungsi sebagai antioksidan.

3.9 Pengemasan dalam Gula dan Sirup
Buah yang akan dibekukan dapat dikemas di dalam gula atau sirup, dapat juga diboarkan tanpa pemanis, tergantung dari kemanisan buah. Buah beku yang tidak diberi pemanis biasanya digunakan untuk pie,jelly, dan jam. Tujuan pemberian gula disamping untuk pemanis juga untuk mempertahankan cita rasa dan warna serta mencegah terjadinya oksidasi serta perusak selama penyimpanan. Gula dapat ditambah dalam bentuk gula kering atau dalam bentuk sirup. Pengemasan dalam bentuk sirup lebih baik karena dapat menahan aromatic volatile dan lebih efektif dalam mencegah perusakan. Penggunaan gula kering biasanya pada buah yang sudah dimasak hal ini dikarenakan buah yang sudah masakmengandung air lebih sedikit.
product1_large
3.10 Mencegah Perubahan Tekstur / Kekerasan
            Perubahan kekerasan ini dapat dicegah dengan perendaman dalam larutan garam kalsium. Dalam buah, klsium yang bervalensi dua secara bereaksi secara menyilang dengan gugus karboksil dari pectin. Bila ikatan tersebut jumlahnya besar maka akan terjadi  jaringan kalsium pektat yang tidak larut dalam air hal inilah yang menyebabkan buah tahan akan gangguan mekanis sehingga pemecahan protopektin selama pengolahan buah.
            Beberapa garam kalsium yang dapat digunakan sebagai bahan pada pengalengan buah yaitu :
v  Kalsium klorida
v  Kalsium laktat

3.11 Pembekuan Buah-buahan dan Sayuran
            Proses pembekuan sayuran akan berjalan baik apabila suhu penyimpanan dipertahankan  tidak melebihi  batas minimum dari pertumbuhan mikroba. Untuk penyimpanan yang lebih lama, mutu makanan beku akan rusak terutama sebagai akibat dari perubahan-perubahan fisik,kimia, biokimia.
1.      Perlakuan-perlakuan yang dilakukan sebelum pembekuan sayuran dan buah-buahan yang mengurangi kerusakan selama sayuran dalam masa pembekuan :
·         Blansir : suatu proses yang dilakukan untuk beberapa buah-buahan dan hamper semua sayuran yang bertujuan untuk menginaktifkan enzim-enzim peroksida, katalase,dan enzim pembuat warna coklat lainya, selain itu dapat mengurangi kadar oksigen dalam sel, mengurangi jumlah mikroba.
·         Penambahan dan pencelupan ke dalam larutan askorbat : hal ini bertujuan untuk mempertahankan warna
·         Pengemasan buah-buahan dalam gula kering dan sirup : untuk meningkatkan kecepatan pembekuan dan mengurangi reaksi pencoklatan
·         Perubahan Ph beberapa buah : untuk menurunkan kecepatan reaksi pencoklatan
Perubahan enzim merupakan penyebab utama dari perubahan mutu buah-buahan dan untuk mendapatkan mutu yang cukup baik enzim-enzim tersebut harus diin-aktifkan atau dihambat.
Faktor-Faktor yang mempengaruhi mutu makanan beku :
1.      Mutu bahan baku yang digunakan
2.      Perlakuan sebelum pembekuan : Blansir,penggunaan SO2atau asam askorbat
3.      Metoda dan kecepatan pembekuan
4.      Suhu penyimpanan
5.      Waktu penyimpanan
6.      Kelembaban lingungan yang digunakan
7.      Sifat-sifat dari setiap bahan pengemas
Beberapa hal yang mempengaruhi kerusakan mutu makanan adalah :
1.      Perubahan warna
2.      Perubahan tekstur
3.      Perubahan Flavor
4.      Perubahan zat gizi

3.12 Aplikasi Pengolahan dengan Pendinginan dan Pembekuan
Industri Pangan Beku Berbasis Udang
Bahan baku berupa udang, oleh industri diolah menjadi berbagai produk olahan udang beku (frozen shrimp), yaitu : headless shell-on, whole head-on, peeled and deveined, peeled undeveined, breaded, battered, cooked, dan specailities. Bentuk primer pada perdagangan udang beku adalah headless shell-on, atau populer dengan headless (HL).
            Berdasarkan alat pembeku dan cara pengemasan / penyimpanannya, udang beku bentuk headless dibedakan menjadi dua, yaitu : bentuk blok (block frozen of headless shrimp) dan bentuk individual (individual frozen of headless shrimp). Dari kedua bentuk olahan ini, block frozen of headless shrimp paling mendominasi dalam perdagangannya, termasuk dalam investasi industrinya di Indonesia.
2352987377_c817fb42d7                   FD001617
Tahap dan prosedur dalam memproduksi udang beku (block frozen of headless shrimp) yang baik, disajikan dalam Tabel 3.
Tabel 3-2 Tahapan Proses pada Industri Udang Beku
Tahap – tahap
Prosedur
Penerimaan Bahan Baku
·     Udang yang diterima harus dalam keadaan segar, tidak mengandung bahan asing dan antibiotik.
·     Dicatat jumlahnya berdasarkan daerah asal dan suplier yang mengirimkan.
·     Suhu udang maksimal 5oC.
·     Udang dibongkar dan diletakkan pada meja sortir menggunakan keranjang.
·     Pengecekan size dilakukan pernota dan diambil secara acak (random sampling).
Pencucian I
·     Pencucian dilakukan menggunakan air yang megandung klorin dengan konsentrasi 100 ppm.
·     Suhu air maksimal 5oC.
·     Setelah dicuci dengan klorin, basket disiram dengan air dingin.
Pemotongan Kepala
·     Suhu maksimal 5oC untuk menjaga kesegaran udang.
·     Pemotongan kepala dilakukan menggunakan tangan (secara manual) dengan cepat dan hati – hati.
·     Diletakkan dalam basket yang berisi air dingin.
Pencucian II
·     Pencucian dilakukan dengan menggunakan air dengan konsentrasi klorin 5 – 10 ppm dan suhu maksimal 5oC.
·     Penimbangan.
Sortasi I
·     Memisahkan udang berdasarkan ukurannya (size) dan grading.
·     Maksimal suhu udang 5oC.
Sortasi Final
·     Melakukan pemisahan warna dan mengeluarkan udang yang BS (below standar) dan udang yang broken.
·     Maksimal suhu udang 5oC.
Penimbangan
·     Kalibrasi timbangan dilakukan setiap satu bulan sekali untuk menjaga kesesuaian berat hasil penimbangan.
·     Penimbangan dilakukan dengan hati – hati dan cepat.
Pencucian Final
·     Udang yang telah ditimbang dicuci kembali untuk menghilangkan kotoran dan benda asing.
·     Pencucian final dilakukan dua thap, pertama menggunakan air klorin dingin dengan konsentrasi 5 – 10 ppm lalu dicuci menggunkan air untuk mengurangi residu klorin.
·     Suhu dari pencucian kurang dari 5oC.
·     Pencucian dilakukan dengan hati – hati.
Penyusunan & Pemberian Air
·     Setelah dicuci udang disusun dalam inner pan.
·     Penyusunan dilakukan dengan cepat untuk menghindari penambahan suhu.
·     Setelah udang disusun diisi dengan air dingin tanpa klorin.
·     Pengisian air harus penuh.
Pembekuan
·     Pembekuan dilakukan pada suhu optimum produk yaitu 18oC.
·     Menggunakan sistem pembekuan cepat.
·     Inner pan yang telah berisi susunan udang dimasukkan dalam contact plate freezer dan diisi dengan air dingin suhu 5oC.
·     Pembekuan berlangsung selama 2,5 jam.
·     Bahan pendingin yang digunakan adalah ammonia cair.
Pelapisan (Glazing)
·     Setelah pembekuan dikeluarkan dan langsung disiram dengan air dingin untuk pelapisan.
·     Penambahan air dingin dengan suhu 20oC.
·     Pelapisan harus dilakukan dengan cepat
·     Setelah semua blok dilapisi dicelupkan pada air dengan suhu 27 – 28oC.
·     Produk yang telah dibungkus dengan plastik langsung dideteksi dengan metal detector.
·     Metal detector sebelum dioperasikan dicek terlebih dahulu.
Pengemasan
·     Produk sebelumnya dikemas dalam plastik HDPE kemudian inner carton dan master carton.
·     Pemisahan berdasarkan mutu dan size.
·     Setelah produk dikemas, pemberian pita menggunakan strapping band.
·     Suhu ruangan untuk pengemasan maksimal 20oC.
Penyimpanan
·     Produk disimpan dalam cold storage pada suhu -22oC.
·     Penyimpanan dilakukan dengan menggunakan sistem FIFO (first in first out).


                  p_pr_1210495871images
Penyimpanan dan Pengangkutan Makanan Beku
            Makanan dapat dibekukan sebelum atau sesudah dikemas. Buah – buahan dan sayuran yang akan dijual eceran biasanya dibekukan dulu sebelum dikemas dan disimpan dalam peti besar atau silo. Penyimpanan dalam jumlah banyak memungkinkan pengemasan selama setahun dan menghindarkan kebutuhan untuk menduga keperluan ukuran kemasan yang berbeda – beda selama satu tahun penuh.
            Seperti sistem lainnya, pengolah harus yakin bahwa suhu produk telah diturunkan dalam alat pembeku sampai mencapai suhu ruang penyimpanan dingin sebelum dipindahkan ke dalam ruang penyimpanan tersebut (-18oC sampai -25oC). Kegagalan melakukan hal ini akan mengakibatkan kenaikan suhu ruang penyimpanan dingin dan mempercepat kerusakan makanan yang sudah ada di dalamnya. Selang waktu yang cukup lama dibutuhkan oleh sistem pendinginan untuk dapat mengembalikan suhu yang diinginkan.
            Sesudah makanan diolah, disimpan dan dikemas secara baik, bahan ini harus dijual ke konsumen dengan perubahan mutu minimal. Distribusi makanan beku dapat melibatkan beberapa tahap, pengangkutan ke tempat penyimpanan dingin di pedagang – pedagang besar dan kecil, dan produk dapat mengalami perubahan suhu yang tidak dikehendaki selama pemindahan dari ruang penyimpanan satu ke lainnya dan dari kendaraan ke ruang penyimpanan. Perusahaan – perusahaan yang bertanggung jawab telah banyak melakukan pendidikan cara penanganan operasional yang tepat, tetapi masih banyak lagi yang masih harus dikerjakan. Unit pendingin pada alat pengangkut makanan beku dirancang untuk mempertahankan suhu dengan menyerap panas yang masuk ke dalam ruang penyimpanan, tetapi bukan dirancang untuk menurunkan suhu makanan.

3.13 Kesimpulan                                 
            Cara pengawetan bahan pangan pada suhu rendah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pendinginan (cooling) dan pembekuan (freezing). Pendinginan adalah penyimpanan bahan pangan di atas suhu pembekuan yaitu -2 sampai 10oC. Sedangkan pembekuan adalah penyimpanan bahan pangan dalam keadaan beku. Pembekuan yang baik biasanya dilakukan pada suhu -12oC sampai -24oC, dan pembekuan cepat dilakukan pada suhu -24oC sampai -40oC.
            Teknik-teknik dalam proses pembekuan yaitu:
a.                  Pembekuan dalam udara dingin
b.                  Pembekuan dengan kontak tidak langsung dengan zat pembeku
c.                   Pembekuan dengan perendaman langsung
Pemilihan metode pembekuan dapat berdasarkan pada:
Ø  Mutu produk dan tingkat pembekuan yang diinginkan
Ø  Tipe dan bentuk produk, pengmasan dan lain-lain.
Ø  Fleksibelitas yang dibutuhkan dalam operasi pembekuan.
Ø  Biaya pembekuan untuk teknik alternative.
Pembekuan juga dapat mempengaruhi jaringan, mikroorganisme, dan sifat bahan pangan. Adapun beberapa perlakuan pendahuluan sebelum pendinginan dan pembekuan, yaitu pendinginan dan pembekuan. Dimana pembekuan itu sendiri ada 3 tahap, yatu seleksi bahan, persiapan bahan, dan blansir.
Faktor-Faktor yang mempengaruhi mutu makanan beku :
1.                     Mutu bahan baku yang digunakan
2.                     Perlakuan sebelum pembekuan : Blansir,penggunaan SO2atau asam askorbat
3.                     Metoda dan kecepatan pembekuan
4.                     Suhu penyimpanan
5.                     Waktu penyimpanan
6.                     Kelembaban lingungan yang digunakan
7.                     Sifat-sifat dari setiap bahan pengemas
Aplikasi dari pengolahan dengan pendinginan dan pembekuan adakah industry pangan beku berbasis udang. Bahan baku berupa udang, oleh industri diolah menjadi berbagai produk olahan udang beku (frozen shrimp), yaitu : headless shell-on, whole head-on, peeled and deveined, peeled undeveined, breaded, battered, cooked, dan specailities. Bentuk primer pada perdagangan udang beku adalah headless shell-on, atau populer dengan headless (HL).

No comments:

Post a Comment