Friday, 12 October 2012

Pengertian iman dan takwa


Perkataan iman berasal dari bahasa arab amanu yang artinya percaya atau yakin. Secara harfiah iman bisa diartikan rasa aman dan nyaman sedangkan menurut istilah kata iman dapat diartikan dengan meyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah “ Iman ialah bahwa engkau percaya kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir kiamat dan engkau percaya qada’ yang baik dan qada’ yang buruk”. Iman menurut ahlussunnah wal jama’ah adalah dilafadzkan/diikrarkan pada lisan/lidah, ditasdikkan dalam hati dan diamalkan dengan anggota badan. Dengan kata lain iman tersebut mencakup 3 hal yaitu : 1. Ikrar, 2. Tasdiq, 3. Amal. Iman dapat diartikan dengan akidah karena bila kita membahas dan mempelajari akidah maka tidak akan lepas keyakinan tentang tuhan yang pengertian akidah itu sendiri. Perkataan akidah berasal dari bahasa arab yang asal katanya aqodah yang artinya ikatan/jalinan antara 2 orang yang mengadakan perjanjian. Secara terminologi akidah adalah suatu landasan yang mengikat yaitu keimanan, sebab ilmu tauhid disebut juga dengan ilmu aqo’it (jama’ah dari akidah, yang berarti ilmu yang mengikat) akidah menurut syariat artinya iman yaitu keyakinan kepada Allah SWT dengan suatu ungkapan tanpa keraguan. Akidah islam bukan hanya percaya semata melainkan meyakini dengan sebenar-benarnya adanya Allah SWT dan mendorong bagi yang meyakininya untuk selalu berprilaku yang baik sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan Al Hadist

Pendapat para ahli tentang akidah :
1.      Syekh Muhammad Abduh dalam bukunya Risalah Tauhid,  akidah adalah ilmu yang menetapkan keyakinan .
2.      Prof. Dr. Zakiyah Dradjad, M.A dalam bukunya Dasar-Dasar Agama Islam, menegaskan akidah adalah ajaran tentang keyakinan yang menyangkut iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir serta qada’ dan qadar.
3.       Dr. Nasrudin Razak dalam bukunya Dinul Islam, mengatakan bahwa akidah adalah iman atau kepercayaan yang bersumber pada Al Qur’an.

Akidah dapat diartikan dengan ideologi islam yang maksudnya adalah suatu ajaran yang menyatakan keyakinan kepada Allah SWT, yang keyakinan tersebut tidak terdapat sifat keragu-raguan, sebagaimana dikemukakan 2 pakar :
a.       Prof.Dr. Yusuf An-Qordowi dalam bukunya Pedoman Ideologi Islam, islam harus merupakan diseluruh lapangan islam baik secara material maupun spiritual. Akidah islam harus islami, begitu juga sebagian hidupnya. Paham dan pemikiran yang islami demikian halnya dengan perasaan, akhlak, pendidikan, tradisi, tatasusila, undang-undang dan peraturan seluruhnya harus islami. Berdasarkan pada ajaran-ajaran islam sesuai dengan firman Allah pada surat Al-Baqarah : 208 yang artinya “wahai orang-orang yang beriman masuklah kedalam islam secara keseluruhan dan janganlah kamu turuti langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”
b.      Abu ‘Ala Al-Maududi dalam kitabnya Pokok-Pokok Pandangan Hidup  muslim menyatakan : ideologi islam berdasarkan atas aprus ( pendekatan hidup yang unik dan konsepsi istimewa mengenai kedudukan manusia dalam alam semesta)

Fungsi Dan Peran Akidah
a.       Menentukan dan mengembangkan dasar ketuhanan yang dimiliki manusia sejak dia lahir artinya lahir manusia diberi / memiliki potensi pikir dan fitrahnya sehingga sepanjang hidupnya memerlukan agama (ajaran). suatu ajaran aqidah berperan untuk memenuhi fitrahnya
b.      Memberikan ketenangan dan ketentraman jiwa manusia, artinya islam merupakan kebutuhan bagi kehidupan manusia sebagai fitrah sehingga dapat mendorong manusia untuk terus mencarinya
c.       Memberikan pedoman hidup yang pasti, artinya keyakinan terhadap Allah SWT memberikan arahan suatu jalan kebenaran didalam kebenaran (haq) yang sebenarnya dan sesungguhnya.

Di dalam sejarah islam para ahli mengkategorikan ragam pemikiran dalam 4 kelompok pemikiran sebagai berikut :
a.       Kelompok Jabariyah
b.      Kelompok Qodariyah
c.       Kelompok Mu’tazilla
d.      Kelompok Asyariah

Kategori ini didasarkan pada pemahaman yang bersumber langsung kepada Al Qur’an dan Al Hadist, interpretasi tentang Al Qur’an dan Al Hadist dan juga pemikiran yang dipengaruhi perkembangan kultur.

a.       Golongan Jabariyah
Didirikan oleh Jaham Bin Sofwan pada abad ke-2 hijriyah disebut juga golongan jahamiah, bahwa perbuatan baik atau perbuatan buruk manusia bukan atas kehendak dirinya, sehingga manusia tidak mempunyai paksaan (jabbar) dari Allah SWT, sehingga manusia tidak mempunyai kekuasaan sedikitpun untuk memilih dari perbuatan yang akan dilakukannya, mereka mengambil dalil Al Qur’an surat As-Safat : 96 yang isinya “ Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu, dan apa yang kamu perbuat” kemudian Surat Al-Hadid yang isinya “ Tiada suatu bencana pun menimpa dibumi, dan tidak pula menimpa pada dirimu sendiri, melainkan tertulis didalam kitab sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah”. Kemudian pada surat Al-Anfal : 17 dan surat At-Taubah :51.

b.      Golongan Qadariyah
Didirikan oleh Ma’had Al Jauhari di Iraq pada akhir abad ke-1 hijriyah. Nama golongan ini berdasar kepada pengertian bahwa manusia mempunyai Qodrat atau kekuasaan untuk berbuat sesuai kehendaknya. Paham dari golongan Qadariyah ini adalah bahwa manusia telah dijadikan Allah dan dibekali potensi untuk berbuat. Allah SWT tidak ada pengaruhnya kepada segala perbuatan manusia. Mereka mengambil dalil surat Al-Kahfi : 29, Ar-Radu : 11 dan Al-Balad : 10 artinya :“Dan kami telah menunjukkan kepada dua jalan”



c.       Mu’tazilla
Didirikan oleh Abu Buzaifa Wasil Bin Atho’. Golongan ini disebut mu’tazilla karena pendirinya menyimpang dari ajaran gurunya Al Hasan Basri, sedangkan mereka sendiri tidak mau disebut mu’tazilla. Mereka menyebut diri mereka sebagai ahlul haq (pendiri kebenaran). Golongan ini memiliki beberapa doktrin :
1.      Tentang dosa besar, orang islam yang memiliki dosa besar disebut fasiq, mereka bukan mu’min dan bukan pula kafir, bagi mereka tidak akan masuk surge dan tidak masuk neraka, tetapi menempati tempat khusus antara surge dan neraka. Ada juga disebut mu’tazilla karena pendirinya beda dari yang lain.
2.      Tentang qadar, Allah tidak menjadikan perbuatan mahluk tapi mahluk yang berbuat. Oleh karena ini mereka pantas mendapat azab atas dosa-dosanya dan mereka juga berhak mendapat keuntungan dari amal kebaikannya
3.      Tentang keesahan Allah, mereka meniadakan keesahan Allah karena yang disebut tauhid adalah meniadakan sifat-sifat keesahan Allah. Karena apabila Allah mempunyai sifat maka Allah tidak esa lagi
4.      Kemampuan akal manusia, manusia dengan kemampuan akalnya dapat mengetahui benar dan salah, baik dan buruk. Walaupun tidak dituntun oleh syara’(hukum)
5.      Janji dan ancaman, Allah akan memenuhi janjinya baik berupa pahala maupun siksa bagi orang yang melakukan siksa tidak akan diampuni dosanya kecuali bertaubat.

d.      Golongan Asyariah
Didirikan Abu Hasan Al Ansyari, golongan ini merupakan reaksi kepada golongan mu’tazilla. Kadang-kadang golongan ini disebut juga ahli sunnah wal jama’ah, karena mereka banyak berpegang pada tradisi nabi dan sahabat. Dengan demikian pengikutnya cukup banyak. Pendapatnya tentang ketuhanan dijelaskan bahwa Allah mempunyai sifat dan nanti di akhirat Allah sksn mendapat pilihan mengenai perbuatan manusia bahwa manusia tidak hanya dilahirkan oleh manusia tetapi tidak lepas dari kekuasaan Allah didalam hubungannya dengan surge dan neraka Allah saja yang menentukannya. Bagi muslim yang berdosa besar, dia akan mendapat siksa di neraka sesuai kadar dosanya. Kemudian dia dimasukkan ke dalam surga. Melihat keseluruhan asyariah ini, pada umumnya merupakan kompromi dari golongan Qadariyah dan jabbariyah. Sedangkan apabila dibandingkan dengan golongan-golongan diatas didapat :

1.      Adanya perbedaan pandangan terhadap sifat-sifat Allah, sedangkan mengenai zatnya semua golongan sama mengakui keesahan-Nya
2.      Mengenai kuasa tidaknya Allah didalam menggerakkan perbuatan. Adanya kebebasan manusia untuk berbuat, adanya keterbukaan manusia untuk berbuat, adanya usaha manusia yang tidak terlepas dari kekuasaan Allah.
3.      Mengenai efek perbuatan manusia yang mempunyai dosa besar akan mengalami siksaan sesuai dengan amalnya dan adanya yang mengemukakan fasik, mereka akan menempati suatu tempat antara surge dan neraka.
Pada hakikatnya terjadi perbedaan pada pemikiran tentang islam ini diantaranya akibat banyaknya pengaruh-pengaruh luar yang digunakan sebagai alat dalam pemikirannya juga akibat keterbatasan ilmu pengetahuan dan lain-lain.

Tingkat akidah
Akidah (ideologi) yang diyakini setiap individu muslim yang mu’karlab tidak akan sama dengan keyakinan yang dimiliki individu lainnya, karena tingkat keyakinan seseorang tumbuh dan berkembang pada hatinya dan akan bertambah subur apabila keyakinan itu dipelihara dengan sebaik-baiknya dan sebaliknya iman seseorang akan berkurang dan akhirnya lenyap bila tidak dipelihara. Dalam islam aqidah (keyakinan) seorang muslim mu’karlab bertingkat, tingkatan itu sesuai dengan persepsi individu muslim yang merasakannya, adapun tingkat aqidah adalah
a.       Taqlid
Yaitu tingkat keyakinan yang didasarkan atas pendapat orang yang diikutinya tanpa dipirkan lebih dahulu
b.      Yakin
Yaitu tingkat keyakinan yang didasarkan atas bukti dan dalil yang jelas, akan tetapi belum menemukan hubungan yang kuat antara objek keyakinan dengan dalil
c.       Ainul Yakin
Yaitu tingkat keyakinan yang didasarkan dalil, dalil rasional, dan ilmiah, sehingga mampu membuktikan hubungan objek keyakinan dengan dalil-dalil secara qat’i serta mampu memberikan argumentasi (jawaban) yang rasional terhadap sanggahan-sanggahan yang datang
d.      Haqul Yakin
Untuk tingkat keyakinan yang disamping didasarkan atas dalil, dalil rasional ilmiah dan mampu membuktikan hubungan antara objek keyakinan dengan dalil-dalil serta mampu memberikan argumentasi (jawaban) yang rasional dengan menemukan dan merasakan keyakinan melalui pengalaman hidup


Faktor-faktor pembinaan akidah
Akidah dapat dibina oleh beberapa faktor antara lain:
a.       Faktor Ilmu Pengetahuan, dengan ilmu yang dimiliki seseorang dapat memahami, mengerti, mampu mengulas, mampu menganalisis, mampu mensintesa, mampu mengevaluasi sebagai landasan terbinanya kepekaan rasa dan keterampilan untuk berbuat disamping pengamalan berbuat. Menurut disiplin ilmu yang dimiliki oleh seorang muslim
b.      Faktor amal saleh yang benar dan tepat sesuai dasar keimanan dan sunatullah (disiplin ilmu yang dimiliki/hukum yang lain) dengan kata lain amal saleh adalah amal yang tepat sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist yang tidak bertentangan dengan keimanan (keyakinan)
c.       Faktor Jihad, secara etimologi jihad berarti sungguh-sungguh menegakkan dan menyebarkan ajaran Allah SWT artinya konsisten dalam melaksanakan tugas menyebarkan dan menegakkan ajaran Allah SWT. Jihad dapat dilakukan dengan apa saja yang dimiliki seperti harta kekayaan, jiwa raga dan semangat yang berbuat (secara ikhlas)
d.      Faktor penyerahan diri secara mutlak dan menyeluruh artinya tunduk dan menyerahkan diri semata-mata kepada Allah SWT atas segala tindakan dan hasil perbuatan demi mendapat ridho sebagaimana Allah menyatakan dalam firman-Nya surat Al Baqarah : 112 , “Barang siapa menyerahkan diri kepada Allah sedia berbuat kebaikan, maka baginya pahala disisi tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati’
e.       Faktor Keridhoan Allah
Apabila kita bersikap dan berbuat sesuai dengan perintah dan larangannya yang diatur dalam syariat, insyaallah akidah akan terbina dan tertata rapi dalam hati seorang muslim

Perkataan takwa berasal dari bahasa arab, asal kata dari waqayaqi, wiqaya yang artinya takut, menjaga, memelihara atau melindungi. menurut istilah takwa diartikan sikap menjaga, memelihara keimanan diwujudkan dalam pengamalan ajaran islam secara utuh dan konsisten (istiqamah), jadi orang yang bertakwa adalah menjalankan seluruh perintah dan meninggalkan semua larangan sebagaimana yang tercantum dalam syariah Allah

Wujud Iman Dan Takwa

Iman dan takwa adalah suatu kekuatan yang ada di dalam diri manusia yang tidak mudah diketahui atau dideteksi secara pasti tentang keadaan yang sebenarnya. Hal  dikarenakan iman itu tidak terlihat oleh panca indera manusia itu sendiri tetapi dapat dirasakan oleh yang meyakininya. Iman dapat dilihat/diketahui orang lain dan yang bersangkutan dari gejala prilaku sehari-hari secara lahiriah. Ada 3 konsep wujud iman dan takwa dalam diri manusia yaitu :
1.      Melafadzkan secara fasih kalimat syahadat, karena awal dari keimanan dan ketakwaan adalah syahadat tain
2.      Mendirikan shalat khusu’ dan tawadu’, indikator takwa kedua memelihara ibadah secara formal kepada Allah SWT
3.      Mengeluarkan zakat, berinfak, sedekah kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat islam yaitu 8 asnaf, indikator takwa yang ketiga adalah mencintai sesama umat manusia yang diwujudkan melalui kesanggupan mengorbankan harta benda
4.      Menempati janji, yang dalam pengertian lain memelihara kehormatan manusia itu sendiri
5.      Sabar disaat kesusahan, kepayahan yang menimpa manusia itu sendiri artinya semua perbuatan diserahkan kepada Allah SWT sambil berikhtiar dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kesuksesan hidup
6.      Ridha dan ikhlas terhadap keputusan apabila itulah yang menjadi ketentuan bagi dirinya

Manusia lahir secara fitrah dalam keadaan suci dan mempunyai nafsu sebagaimana lainnya Ia tertutup sesuai dengan sunatullah. Iman dan takwa tidak berasal dari kedua orang tua ayah dan ibu, akan tetapi benih-benih iman dan takwa sudah ada pada diri manusia itu sendiri sejak dilahirkan. Berkembang tidaknya fitrah iman dan takwa tergantung dari pendidikan, pemahaman, dan pengalaman agama yang didapat pada saat manusia menginjak dewasa. Kefitrahan manusia dibawa sejak Ia dilahirkan, namun kenyataan dalam hidup setelah manusia memahami arti hidup maka kefitrahan yang dibawanya sejak lahir bergeser dibawa arus kehidupan. Kefitrahan iman dan takwa biasa saja mantap apabila kedua orang tuanya berperan aktif untuk mendidik / membentuk kepribadian anak karena orangtuanyalah yang menjadikan anak itu yahudi, nasrani, majusi, dan lain-lain fitrah bersifat potensial, ia tidak dengan sendirinya menjadi manusia berakhlak / berkepribadian mulia. Oleh sebab itu, fitrah haruslah dijaga, dirawat, serta ditumbuhkembangkan agar manusia dapat tumbuh menjadi insan kamil (manusia sempurna) penuh kemuliaan dan harapan, selain kedua orangtuanya juga lingkungan sekitar juga merupakan factor yang sangat dominan dapat mempengaruhi dan ikut berperan dalam proses tumbuh dan berkembangnya fitrah iman dan takwa.

Ciri-Ciri Orang Beriman Dan Bertakwa

Secara umum karakteristik orang yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa (Allah SWT) dapat dikelompokkan dalm 5 kategori :
1.      Memelihara fitrah iman
2.      Mencintai sesama umat manusia yang diwujudkan melalui kesanggupan berkorban baik secara fisik maupun materi
3.      Memelihara ibadah secara formal
4.      Memelihara kehormatan diri dan keluarga
5.      Memiliki semangat perjuangan (berikhtiar dan berdoa)

Allah berfirman dalam surat Al-Imran :133 yang artinya :” Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari tuhanmu dan surge yang luasnya seluas langit dan bumi yamg disediakan bagi orang-orang bertakwa (muttaqin)”. Selanjutnya Allah menjelaskan cirri-ciri orang bertakwa: “Yaitu orang-orang yang berinfak karena Allah, baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orng-orang yang menahan amarahnya dan mereka yang pemaaf terhadap kesalahan manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan”

Korelasi Antara Keimanan Dan Ketakwaan

Hubungan antara keimanan dan ketakwaan ini tidak dapat dipisahkan satu dan lainnya karena antara keimanan dan ketakwaan pada dasarnya saling membutuhkan artinya keimanan manusia supaya Allah dapat menerima ketakwaan. Setiap amalan / perbuatan yang baik tidak diterima Allah SWT tanpa didasari keimanan. Iman seseorang seolah-olah hampa dan kosong tanpa amal saleh yang menyertainya. Secara konkretnya membuktikan bahwa ada iman dalam hatinya. Tingkat takwa (muttaqin) dapat diperoleh seorang muslim apabila melalui beberapa tingkatan antara lain :


1.      Muslim
2.      Mu’min
3.      Muhsin
4.      Mukhlisin
5.      Mu’tadin
6.      Muttaqin

No comments:

Post a Comment